Serabi Kalibeluk jadi legenda dan disukai banyak orang bukan hanya
karena keempukan dan kelezatannya saja, tetapi karena ada cerita unik di
belakangnya. Tidak jelas sejak kapan masyarakat Kalibeluk menekuni
usaha pembuatan serabi. Tetapi dari legenda yang ada, usaha pembuatan
serabi ini sudah ada sejak zaman Mataram.
Dikisahkan, dahulu di desa Kalisalak ada seorang gadis cantik bernama
Dewi Rantansai yang hendak dipersunting Sultan Mataram. Maka diutuslah
orang kepercayaan Sultan bernama Bahureksa untuk menemui Dewi Rantansari
untuk melamarnya. Namun setelah bertemu Dewi Rantansari, ternyata
Bahureksa berubah pikiran. Dirinya justru jatuh cinta pada Dewi
Rantansari dan berniat mempersuntingnya untuk diri sendiri.
Untuk mengelabuhi Sultan, maka Bahureksa membuat rekayasa dengan
menyuruh gadis lain yang kecantikannya setara dengan Dewi Rantansari.
Dipilihlah Endang Wiranti, anak penjual serabi dari desa Kalibeluk.
Gadis cantik itu disuruh menemui Sultan Mataram dengan menyamar sebagai
Dewi Rantansari. Sultan Mataram menerima Endang Wiranti dengan senang
hati, tetapi Endang Wiranti tidak kuasa membohongi hati nuraninya sampai
akhirnya pingsan. Setelah siuman Endang Wiranti mengakui jati diri yang
sebenarnya. Lantaran kejujurannya, maka Sultan Mataram menyuruh Endang
Wiranti pulang ke desanya dan menghadiahi sejumlah uang agar bisa
meneruskan usaha orang tuanya berjualan serabi di desa Kalibeluk.
Cerita legenda tersebut sudah terpatri kuat dalam ingatan masyarakat
Batang. Tokoh legenda Endang Wiranti diyakini benar-benar pernah ada dan
menjadi representasi pedagang serabi di desa Kalibeluk.
Pesan moral yang didapat dari tokoh Endang Wiranti adalah kejujuran dan
kesederhanaan, yang merupakan mutiara sangat berharga dari hidup.
Lantaran kejujuran inilah Endang Wiranti mendapatkan hadiah dan bisa
meneruskan usaha orang tuanya berjualan serabi. Dari sinilah tradisi
pembuatan serabi kian berakar dalam kehidupan masyarakat Kalibeluk.
Cerita sentimentil itu memang tidak terlalu penting. Persoalan saat ini
adalah bagaimana mengupayakan agar usaha serabi di desa Kalibeluk bisa
berkembang dan mampu menyejahterakan masyarakatnya. Tidak hanya hebat
dalam hal promosi dan reputasi.
Selama ini serabi Kalibeluk sudah kondang di mana-mana karena telah
dipromosikan lewat berbagai event. Pemkab Batang lewat Kantor Pariwisata
pernah mengajak para penjual serabi menggelar dagangannya di Taman Mini
Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada saat kontingen kesenian Batang
tampil di Anjungan Jateng.
Uluran tangan juga datang dari Kantor Perindustrian dan Perdagangan
dengan memberinya mesin pembuat tepung dan parutan kelapa. Bahkan Bupati
Bambang Bintoro juga ikut cawe-cawe, sekali waktu memesan serabi Kalibeluk untuk menjamu tamu-tamunya dari luar kota.
Namun dari pengakuan para produsen serabi, kesulitan yang selama ini
dirasakan adalah soal pemasaran. Inilah penyebab industri rumah tangga
itu sulit berkembang. Maka diperlukan strategi pemasaran yang jitu
dengan manajemen yang lebih profesional.
Memang, namanya kue serabi harus habis dalam waktu sehari. Kalau sampai
bobor (tidak habis) maka pedagang akan rugi. Inilah barangkali kendala
paling menyusahkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar