Menggunakan Peralatan Tradisional
Serabi kalibeluk mempunyai rasa yang enak dan ukurannya yang besar.
Serabi ini dalam pengolahannya masih menggunakan peralatan tradisional,
yaitu tungku dan cetakan dari tanah liat.
Surimi (60 tahun), penjual serabi kalibeluk, yang ditemui Obsessionnews.com
di rumahnya, Minggu, (11/1/2015) mengatakan, serabi kalibeluk berbahan
dasar gula pasir, pandan, tepung dan gula aren. Adonan serabi dijadikan
satu, kemudian dimasukkan ke dalam cetakan. Setelah itu, adonan
dipanggang di atas tungku hingga matang.
Serabi kalibeluk mempunyai ciri khas ukurannya besar dan teksturnya
agak lengket. Dari segi rasa, serabi ini mempunyai dua pilihan rasa,
yaitu manis dan gurih. Untuk rasa manis, dijamin akan membuat ketagihan
karena rasa manis yang berasal dari gula aren ini sangatlah pas di
lidah. Belum lagi teksurnya yang agak lengket menjadikan rasa manis pada
serabi bertahan lama ketika dikunyah. Cara memakannya tanpa menggunakan
kuah seperti serabi pada umumnya. Biasanya serabi ini dimakan sebagai
kudapan pada pagi hari, karena satu serabi sudah dapat mengenyangkan
perut.
Surimi menekuni usaha serabi selama 30 tahun. Keluarganya membuat serabi secara turun-temurun. Harga yang dipatok per tangkep Rp 8.000 dengan isi dua buah serabi. Di samping itu, serabi ini hanya dijual di Pasar Warungasem dan sekitar Kabupaten Batang.
Tetapi untuk nama, serabi ini sudah kondang di mana-mana. Pemerintah
Kabupaten Batang pernah mengajak para penjual serabi untuk mengikuti
event di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, ketika kontingen
kesenian Batang tampil di Anjungan Jateng.
Di balik itu semua masih ada kesulitan yang dirasakan oleh para
perajin serabi, salah satunya adalah pemasaran. Kendala lainnya ialah
serabi kalau tidak habis maka pedagang akan rugi, mengingat serabi ini
hanya bertahan selama kurang lebih tiga hari. Namun demikian, mengingat
keunikan dan rasanya yang khas, serabi kalibeluk wajib Anda cicipi
ketika singgah di Batang. (Yusuf Isyrin Hanggara)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar