Rabu, 16 November 2016

Sejarah Serabi Kalibeluk Warungasem Batang
HomeSejarah BatangMitos

Sejarah Serabi Kalibeluk Warungasem Batang

Asal usul Makanan Khas mBatang Serabi Kalibeluk Warungasem Kabupaten Batang Jawa Tengah penjual serabi kali beluk di pingiran pasar warungasem ramah dan sopan
Serabi Kalibelok Makanan Khas Kab Batang Bertambah
Asal Muasal Serabi Kalibeluk Batang
Ada sisi menarik dari Serabi Kalibeluk. Kudapan empuk dari Desa Kalibeluk, kecamatan Warungasem, Batang ini memiliki nilai sejarah legenda yang unik. Dan menjenguk Desa Kalibeluk rasanya belum sempurna kalau tidak mencicipi serabi dan cari tahu asal-usulnya. 
Jika menyusuri lorong-lorong jalan di perkampungan itu akan banyak dijumpai rumah sekaligus warung. Untuk menandai di tempat itu sebagai perajin serabi mudah saja. Jika ada rumah yang jendelanya terbuka lebar dan ada ibu-ibu sedang duduk di depan tungku pastilah itu rumah perajin serabi. 
Proses pembuatan serabi menggunakan peralatan sederhana. Adonan kental dituang dalam wajan tanah di atas tunggu. Ini merupakan daya tarik tersendiri. Para pembeli bisa datang langsung ke kampung Kalibeluk sambil melihat proses pembuatannya, atau cukup membeli di pasar tradisional.
Bagi masyarakat, menyantap serabi di pagi hari sama dengan sarapan, karena makan satu biji saja perut sudah terasa kenyang. Harganya pun terjangkau, satu linting (tangkep) cuma Rp 2.000. Begitulah ciri khas jajanan tradisional, murah dan mengenyangkan. 
Memang, bagi warga Kalibeluk membuat serabi itu merupakan usaha tradisional warisan nenek moyang. Kesan tradisionalnya sangat kelihatan, terutama dari proses pengolahannya. Bahan-bahan yang digunakan juga mudah didapat di daerah sekitar yakni beras, kelapa, dan gula jawa.
Orang mungkin akan berpikir dan bertanya, mengapa serabi Kalibeluk bisa terkenal dan digemari masyarakat. Padahal yang namanya serabi di mana-mana sama saja, dari bahan-bahan yang disediakan sampai proses pengolahannya. 
Yang membedakan antara serabi Kalibeluk dengan serabi-serabi lainnya barangkali hanya pada unsur kesejarahan dan trade mark yang sudah kelewat melekat di benak publik sehingga menimbulkan kesan istimewa. 
Terjadi semacam proses ”legitimasi” dalam budaya kuliner yang menimbulkan fanatisme masyarakat dalam memilih jajanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar