Serabi kalibeluk bisa jadi semua orang sudah mengenalnya, bahkan sudah sering
menyantapnya. Namun Serabi Kalibeluk bisa dikatakan beda dibanding
serabi lainnya, baik dari tekstur, rasa maupun ukurannya. Serabi
Kelibeluk ukurannya relatif besar, tebal dan beratnya untuk satu tangkep atau satu set, dua ons lebih. Rasanya juga gurih, manis dan harum.
Di Desa Kalibeluk Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang, saat ini hanya
terdapat delapan rumah atau 8 keluarga pembuat serabi dan mereka masih
merupakan kerabat dekat yang membuat serabi secara turun temurun. Salah satu di antara mereka adalah pasangan suami-isteri, Yatin Tasripin (55) dan Surini (50).
Menurut penuturan Surini, keduanya menekuni pembuatan serabi sudah puluhan tahun, menggantikan orangtuanya. Resepnya pun
diwarisi dari kakeknya. Adapun peralatan untuk membuat serabi juga
masih sederhana. Cetakan serabinya bentuknya seperti mangkuk terbuat
dari tanah liat dan perapiannya juga memakai tungku dengan menggunakan kayu bakar.
“Sejak dulu kami
tidak pernah memakai kompor minyak atau gas. Meskipun sedikit ribet,
kami lebih suka menggunakan kayu bakar, karena jika kompor minyak atau
gas aroma serabi bisa berubah,” kata Surini kepada Batang Berkembang di rumahnya, beberapa waktu lalu.
Selama
ini, menurut Surini, ia hanya menggunakan satu tungku perapian dan alat
pencetak serabi yang bisa mencetak 4 serabi sekaligus. “Membuat serabi
itu perlu kesabaran. Lengah sedikit, kue serabi bisa gosong dan tidak
enak dimakan,” ucapnya.
Ibu tujuh anak itu menambahkan, setiap pagi banyak pembeli yang
datang. Kebanyakan mereka membeli serabi untuk oleh-oleh sanak keluarga
yang berada di luar kota, atau untuk disantap sendiri. Sehingga sebelum
pukul 11.00 siang, serabi yang dijajakan oleh Surini di rumahnya itu
sudah habis terjual.
“Dulu awal tahun 1980, saat mula pertama kami membuat serabi, sering
saya jajakan ke pasar atau ke toko kue, namun hanya berlangsung selama
beberapa bulan saja, kini sudah tidak lagi. Karena serabi yang kami
buat sudah habis terjual di rumah,”papar wanita itu yang
sehari-harinya membuat sedikitnya 100 buah serabi itu.
Ia menuturkan lebih lanjut untuki bahan baku serabi, Surini
menggunakan beras pilihan seharga Rp.7.500,-/kg. Dalam satu minggu ia
membutuhkan beras 1 kwintal lebih. Adapun cara membuat serabi menurut
dia cukup mudah. Setiap 1 kg beras dicampur dengan satu butir kelapa
lalu ditumbuk hingga kedua bahan menjadi halus. Tahap berikutnya tepung
beras bercampur kelapa yang telah halus itu lalu diberi gula aren atau
gula pasir dan vinili sebagai pengharum serta air secukupnya lalu diaduk
hingga berbuih.
“Kami membuat dua jenis serabi, yaitu serabi berwarna cokelat
menggunakan gula aren dan serabi berwarna putih menggunakan gula pasir.
Untuk serabi gula aren peminatnya lebih banyak. Adapun harga satu
tangkep atau satu set serabi, baik gula aren maupun gula pasir sama,
Rp.6.500,” ujar Surini.
Berbagi tugas.
Dalam menjalankan usahanya tersebut, Surini setiap hari berbagai tugas
dengan Yatin Tasripin, suaminya. Setiap pagi tidak kenal rasa malas atau
enggan, Tasripin menumbuk beras bercampur kelapa hingga halus menjadi
tepung. “Untuk membuat tepung bercampur kelapa saya lakukan sesuai
kebutuhan. Saya tidak berani membuat tepung terlalu banyak, karena sisa
tepung kalau tidak langsung digunakan bisa menjadi asam dan rasa serabi
pun menjadi tidak enak,” tutur kakek 3 cucu itu.
Ia menambahkan untuk membuat serabi sebanyak 50 tangkep atau 100 buah
serabi, tepung bercampur kelapa dibuat secara berangsur tidak
sekaligus. Hal itu semata-mata untuk menjaga kwalitas dan tekstur serabi
agar tetap empuk dan gurih.
Dinamakan serabi kalibeluk karena dibuat di Desa Kalibeluk dan nama
serabi tersebut sudah lama melegenda. Di luar Desa Kalibeluk, kalau pun
ada pembuat kue serabi, bentuk,
ukuran maupun rasa dipastikan tidak sama. Sejak dulu warga yang membuat
serabi di Desa Kalibeluk hingga sekarang tidak lebih dari 8 keluarga.
Kenapa bisa demikian?
“Kami juga tidak tahu. Yang jelas kami para pembuat serabi di desa
ini masih keturunan Nyai Randinem, cikal bakal pembuat serabi di Desa
Kalibeluk,” kata Yatin Tasripin.
Laki-laki itu menambahkan, menurut cerita, Nyai Randinem mendapat
restu dan diberi bekal cara membuat serabi oleh Ki Ageng Cempaluk tokoh
sakti yang bertempat tinggal di Kesesi (kini wilayah Kabupaten Pekalongan). Adapun Ki Ageng Cempaluk tersebut adalah ayahanda Tumenggung Bahurekso, Senopati Kerajaan Mataram pada zaman Sultan Agung.
Dalam babad Batang, nama Tumenggung Bahurekso sangat dikenal. Bahurekso
berhasil membuka hutan belantara Alas Roban yang angker menjadi
pemukiman penduduk dan berkembang menjadi Kabupaten Batang.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar