| Serabi "Tak Lekang oleh Waktu" |
Kamis, 17 November 2016
bisa jadi semua orang sudah mengenalnya, bahkan sudah sering
menyantapnya. Namun Serabi Kalibeluk bisa dikatakan beda dibanding
serabi lainnya, baik dari tekstur, rasa maupun ukurannya. Serabi
Kelibeluk ukurannya relatif besar, tebal dan beratnya untuk satu tangkep atau satu set, dua ons lebih. Rasanya juga gurih, manis dan harum.
Di Desa Kalibeluk Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang, saat ini hanya
terdapat delapan rumah atau 8 keluarga pembuat serabi dan mereka masih
merupakan kerabat dekat yang membuat serabi secara turun temurun.
Menggunakan Peralatan Tradisional
Serabi kalibeluk mempunyai rasa yang enak dan ukurannya yang besar. Serabi ini dalam pengolahannya masih menggunakan peralatan tradisional, yaitu tungku dan cetakan dari tanah liat.
Surimi (60 tahun), penjual serabi kalibeluk, yang ditemui Obsessionnews.com di rumahnya, Minggu, (11/1/2015) mengatakan, serabi kalibeluk berbahan dasar gula pasir, pandan, tepung dan gula aren. Adonan serabi dijadikan satu, kemudian dimasukkan ke dalam cetakan. Setelah itu, adonan dipanggang di atas tungku hingga matang.
Serabi kalibeluk mempunyai ciri khas ukurannya besar dan teksturnya agak lengket. Dari segi rasa, serabi ini mempunyai dua pilihan rasa, yaitu manis dan gurih. Untuk rasa manis, dijamin akan membuat ketagihan karena rasa manis yang berasal dari gula aren ini sangatlah pas di lidah. Belum lagi teksurnya yang agak lengket menjadikan rasa manis pada serabi bertahan lama ketika dikunyah. Cara memakannya tanpa menggunakan kuah seperti serabi pada umumnya. Biasanya serabi ini dimakan sebagai kudapan pada pagi hari, karena satu serabi sudah dapat mengenyangkan perut.
Surimi menekuni usaha serabi selama 30 tahun. Keluarganya membuat serabi secara turun-temurun. Harga yang dipatok per tangkep Rp 8.000 dengan isi dua buah serabi. Di samping itu, serabi ini hanya dijual di Pasar Warungasem dan sekitar Kabupaten Batang.
Tetapi untuk nama, serabi ini sudah kondang di mana-mana. Pemerintah Kabupaten Batang pernah mengajak para penjual serabi untuk mengikuti event di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, ketika kontingen kesenian Batang tampil di Anjungan Jateng.
Di balik itu semua masih ada kesulitan yang dirasakan oleh para perajin serabi, salah satunya adalah pemasaran. Kendala lainnya ialah serabi kalau tidak habis maka pedagang akan rugi, mengingat serabi ini hanya bertahan selama kurang lebih tiga hari. Namun demikian, mengingat keunikan dan rasanya yang khas, serabi kalibeluk wajib Anda cicipi ketika singgah di Batang. (Yusuf Isyrin Hanggara)
Serabi kalibeluk mempunyai rasa yang enak dan ukurannya yang besar. Serabi ini dalam pengolahannya masih menggunakan peralatan tradisional, yaitu tungku dan cetakan dari tanah liat.
Surimi (60 tahun), penjual serabi kalibeluk, yang ditemui Obsessionnews.com di rumahnya, Minggu, (11/1/2015) mengatakan, serabi kalibeluk berbahan dasar gula pasir, pandan, tepung dan gula aren. Adonan serabi dijadikan satu, kemudian dimasukkan ke dalam cetakan. Setelah itu, adonan dipanggang di atas tungku hingga matang.
Serabi kalibeluk mempunyai ciri khas ukurannya besar dan teksturnya agak lengket. Dari segi rasa, serabi ini mempunyai dua pilihan rasa, yaitu manis dan gurih. Untuk rasa manis, dijamin akan membuat ketagihan karena rasa manis yang berasal dari gula aren ini sangatlah pas di lidah. Belum lagi teksurnya yang agak lengket menjadikan rasa manis pada serabi bertahan lama ketika dikunyah. Cara memakannya tanpa menggunakan kuah seperti serabi pada umumnya. Biasanya serabi ini dimakan sebagai kudapan pada pagi hari, karena satu serabi sudah dapat mengenyangkan perut.
Surimi menekuni usaha serabi selama 30 tahun. Keluarganya membuat serabi secara turun-temurun. Harga yang dipatok per tangkep Rp 8.000 dengan isi dua buah serabi. Di samping itu, serabi ini hanya dijual di Pasar Warungasem dan sekitar Kabupaten Batang.
Tetapi untuk nama, serabi ini sudah kondang di mana-mana. Pemerintah Kabupaten Batang pernah mengajak para penjual serabi untuk mengikuti event di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, ketika kontingen kesenian Batang tampil di Anjungan Jateng.
Di balik itu semua masih ada kesulitan yang dirasakan oleh para perajin serabi, salah satunya adalah pemasaran. Kendala lainnya ialah serabi kalau tidak habis maka pedagang akan rugi, mengingat serabi ini hanya bertahan selama kurang lebih tiga hari. Namun demikian, mengingat keunikan dan rasanya yang khas, serabi kalibeluk wajib Anda cicipi ketika singgah di Batang. (Yusuf Isyrin Hanggara)
Serabi kalibeluk salah satu makanan asli dari Desa Kalibeluk,
Kecamatan Warung Asem, Kabupaten Batang. Serabi ini erat kaitannya
dengan cerita zaman Kerajaan Mataram. Dikisahkan, dulu ada seorang putri
cantik bernama Dewi Rantansari. Sang putri yang cantik jelita disukai
oleh Sultan Mataram.
Kemudian Sultan Mataram mengutus Bahureksa untuk meminang Dewi Rantansari. Tak dinyana, Bahureksa malah jatuh cinta pada sang putri. Untuk mengelabui Sultan Mataram, Bahureksa mencari gadis lain yang mempunyai paras setara kecantikan Dewi Rantansari.
Dipilihlah Endang Wiranti, anak seorang penjual serabi dari Desa Kalibeluk. Endang Wiranti lalu menemui Sang Sultan dengan menyamar sebagai Dewi Rantansari. Sultan menerima dengan senang hati, tetapi Endang tidak tahan untuk berbohong hingga ia pingsan.
Setelah siuman, Endang menceritakan semuanya. Lantaran kejujurannya, Sang Sultan menghadiahi Endang sejumlah uang untuk kembali ke Desa Kalibeluk dan melanjutkan usahanya.
Kisah ini begitu terpatri kuat di masyarakat Desa Kalibeluk. Tokoh Endang diyakini benar-benar ada, sehingga masih ada anggota masyarakat yang menjual serabi kalibeluk sebagai bentuk penghormatan Endang Wiranti.
Kemudian Sultan Mataram mengutus Bahureksa untuk meminang Dewi Rantansari. Tak dinyana, Bahureksa malah jatuh cinta pada sang putri. Untuk mengelabui Sultan Mataram, Bahureksa mencari gadis lain yang mempunyai paras setara kecantikan Dewi Rantansari.
Dipilihlah Endang Wiranti, anak seorang penjual serabi dari Desa Kalibeluk. Endang Wiranti lalu menemui Sang Sultan dengan menyamar sebagai Dewi Rantansari. Sultan menerima dengan senang hati, tetapi Endang tidak tahan untuk berbohong hingga ia pingsan.
Setelah siuman, Endang menceritakan semuanya. Lantaran kejujurannya, Sang Sultan menghadiahi Endang sejumlah uang untuk kembali ke Desa Kalibeluk dan melanjutkan usahanya.
Kisah ini begitu terpatri kuat di masyarakat Desa Kalibeluk. Tokoh Endang diyakini benar-benar ada, sehingga masih ada anggota masyarakat yang menjual serabi kalibeluk sebagai bentuk penghormatan Endang Wiranti.
Serabi Kalibeluk yang Penuh Legenda

Rabu, 16 November 2016
Tau Ga Sih..? Asal Muasal Serabi Kalibeluk..? Yo.. Monggo di boco.....
Dinamakan serabi kalibeluk karena dibuat di Desa Kalibeluk
dan nama serabi tersebut sudah lama melegenda.Di luar Desa
Kalibeluk,kalau pun ada pembuat kue serabi,bentuk,ukuran maupun rasa
dipastikan tidak sama.Sejak dulu warga yang membuat serabi di Desa
Kalibeluk hingga sekarang tidak lebih dari 8 keluarga. Kenapa bisa
demikian?
“Kami juga tidak tahu.Yang jelas kami para pembuat serabi di desa ini
masih keturunan Nyai Randinem,cikal bakal pembuat serabi di Desa Kalibeluk,”kata Yatin Tasripin.
Laki-laki itu menambahkan,menurut cerita,Nyai Randinem mendapat restu
dan diberi bekal cara membuat serabi oleh Ki Ageng Cempaluk tokoh sakti
yang bertempat tinggal di Kesesi (kini wilayah Kabupaten
Pekalongan).Adapun Ki Ageng Cempaluk tersebut adalah ayahanda Tumenggung
Bahurekso, Senopati Kerajaan Mataram pada zaman Sultan Agung.Dalam
babad Batang,nama Tumenggung Bahurekso sangat dikenal. Bahurekso
berhasil membuka hutan belantara Alas Roban yang angker menjadi
pemukiman penduduk dan berkembang menjadi Kabupaten Batang.
“Ki Ageng Cempaluk bersabda bahwa dengan keahlian membuat serabi maka
Nyai Randinem bersama anak keturunannya kelak,hidupnya akan mendapat
berkah dan tidak akan mengalami kesulitan,”tutur Yatin Tasripin yang
memperoleh cerita tersebut secara turun temurun.(Kasirin Umar)
Serabi Kalibeluk jadi legenda dan disukai banyak orang bukan hanya
karena keempukan dan kelezatannya saja, tetapi karena ada cerita unik di
belakangnya. Tidak jelas sejak kapan masyarakat Kalibeluk menekuni
usaha pembuatan serabi. Tetapi dari legenda yang ada, usaha pembuatan
serabi ini sudah ada sejak zaman Mataram.
Dikisahkan, dahulu di desa Kalisalak ada seorang gadis cantik bernama
Dewi Rantansai yang hendak dipersunting Sultan Mataram. Maka diutuslah
orang kepercayaan Sultan bernama Bahureksa untuk menemui Dewi Rantansari
untuk melamarnya. Namun setelah bertemu Dewi Rantansari, ternyata
Bahureksa berubah pikiran. Dirinya justru jatuh cinta pada Dewi
Rantansari dan berniat mempersuntingnya untuk diri sendiri.
Untuk mengelabuhi Sultan, maka Bahureksa membuat rekayasa dengan
menyuruh gadis lain yang kecantikannya setara dengan Dewi Rantansari.
Dipilihlah Endang Wiranti, anak penjual serabi dari desa Kalibeluk.
Gadis cantik itu disuruh menemui Sultan Mataram dengan menyamar sebagai
Dewi Rantansari. Sultan Mataram menerima Endang Wiranti dengan senang
hati, tetapi Endang Wiranti tidak kuasa membohongi hati nuraninya sampai
akhirnya pingsan. Setelah siuman Endang Wiranti mengakui jati diri yang
sebenarnya. Lantaran kejujurannya, maka Sultan Mataram menyuruh Endang
Wiranti pulang ke desanya dan menghadiahi sejumlah uang agar bisa
meneruskan usaha orang tuanya berjualan serabi di desa Kalibeluk.
Cerita legenda tersebut sudah terpatri kuat dalam ingatan masyarakat
Batang. Tokoh legenda Endang Wiranti diyakini benar-benar pernah ada dan
menjadi representasi pedagang serabi di desa Kalibeluk.
Pesan moral yang didapat dari tokoh Endang Wiranti adalah kejujuran dan
kesederhanaan, yang merupakan mutiara sangat berharga dari hidup.
Lantaran kejujuran inilah Endang Wiranti mendapatkan hadiah dan bisa
meneruskan usaha orang tuanya berjualan serabi. Dari sinilah tradisi
pembuatan serabi kian berakar dalam kehidupan masyarakat Kalibeluk.
Cerita sentimentil itu memang tidak terlalu penting. Persoalan saat ini
adalah bagaimana mengupayakan agar usaha serabi di desa Kalibeluk bisa
berkembang dan mampu menyejahterakan masyarakatnya. Tidak hanya hebat
dalam hal promosi dan reputasi.
Selama ini serabi Kalibeluk sudah kondang di mana-mana karena telah
dipromosikan lewat berbagai event. Pemkab Batang lewat Kantor Pariwisata
pernah mengajak para penjual serabi menggelar dagangannya di Taman Mini
Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada saat kontingen kesenian Batang
tampil di Anjungan Jateng.
Uluran tangan juga datang dari Kantor Perindustrian dan Perdagangan
dengan memberinya mesin pembuat tepung dan parutan kelapa. Bahkan Bupati
Bambang Bintoro juga ikut cawe-cawe, sekali waktu memesan serabi Kalibeluk untuk menjamu tamu-tamunya dari luar kota.
Namun dari pengakuan para produsen serabi, kesulitan yang selama ini
dirasakan adalah soal pemasaran. Inilah penyebab industri rumah tangga
itu sulit berkembang. Maka diperlukan strategi pemasaran yang jitu
dengan manajemen yang lebih profesional.
Memang, namanya kue serabi harus habis dalam waktu sehari. Kalau sampai
bobor (tidak habis) maka pedagang akan rugi. Inilah barangkali kendala
paling menyusahkan.
Asal usul Makanan Khas mBatang Serabi Kalibeluk Warungasem Kabupaten
Batang Jawa Tengah penjual serabi kali beluk di pingiran pasar
warungasem ramah dan sopan
Ada sisi menarik dari Serabi Kalibeluk.
Kudapan empuk dari Desa Kalibeluk, kecamatan Warungasem, Batang ini
memiliki nilai sejarah legenda yang unik. Dan menjenguk Desa Kalibeluk
rasanya belum sempurna kalau tidak mencicipi serabi dan cari tahu
asal-usulnya.
Jika menyusuri lorong-lorong jalan di perkampungan itu akan banyak
dijumpai rumah sekaligus warung. Untuk menandai di tempat itu sebagai
perajin serabi mudah saja. Jika ada rumah yang jendelanya terbuka lebar
dan ada ibu-ibu sedang duduk di depan tungku pastilah itu rumah perajin
serabi.
Proses pembuatan serabi menggunakan peralatan sederhana. Adonan kental
dituang dalam wajan tanah di atas tunggu. Ini merupakan daya tarik
tersendiri. Para pembeli bisa datang langsung ke kampung Kalibeluk
sambil melihat proses pembuatannya, atau cukup membeli di pasar
tradisional.
Bagi masyarakat, menyantap serabi di pagi hari sama dengan sarapan,
karena makan satu biji saja perut sudah terasa kenyang. Harganya pun
terjangkau, satu linting (tangkep) cuma Rp 2.000. Begitulah ciri khas
jajanan tradisional, murah dan mengenyangkan.
Memang, bagi warga Kalibeluk membuat serabi itu merupakan usaha
tradisional warisan nenek moyang. Kesan tradisionalnya sangat kelihatan,
terutama dari proses pengolahannya. Bahan-bahan yang digunakan juga
mudah didapat di daerah sekitar yakni beras, kelapa, dan gula jawa.
Orang mungkin akan berpikir dan bertanya, mengapa serabi Kalibeluk bisa
terkenal dan digemari masyarakat. Padahal yang namanya serabi di
mana-mana sama saja, dari bahan-bahan yang disediakan sampai proses
pengolahannya.
Yang membedakan antara serabi Kalibeluk dengan serabi-serabi lainnya
barangkali hanya pada unsur kesejarahan dan trade mark yang sudah
kelewat melekat di benak publik sehingga menimbulkan kesan istimewa.
Terjadi semacam proses ”legitimasi” dalam budaya kuliner yang menimbulkan fanatisme masyarakat dalam memilih jajanan.
Serabi kalibeluk bisa jadi semua orang sudah mengenalnya, bahkan sudah sering
menyantapnya. Namun Serabi Kalibeluk bisa dikatakan beda dibanding
serabi lainnya, baik dari tekstur, rasa maupun ukurannya. Serabi
Kelibeluk ukurannya relatif besar, tebal dan beratnya untuk satu tangkep atau satu set, dua ons lebih. Rasanya juga gurih, manis dan harum.
Di Desa Kalibeluk Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang, saat ini hanya terdapat delapan rumah atau 8 keluarga pembuat serabi dan mereka masih merupakan kerabat dekat yang membuat serabi secara turun temurun. Salah satu di antara mereka adalah pasangan suami-isteri, Yatin Tasripin (55) dan Surini (50).
Menurut penuturan Surini, keduanya menekuni pembuatan serabi sudah puluhan tahun, menggantikan orangtuanya. Resepnya pun diwarisi dari kakeknya. Adapun peralatan untuk membuat serabi juga masih sederhana. Cetakan serabinya bentuknya seperti mangkuk terbuat dari tanah liat dan perapiannya juga memakai tungku dengan menggunakan kayu bakar.
“Sejak dulu kami tidak pernah memakai kompor minyak atau gas. Meskipun sedikit ribet, kami lebih suka menggunakan kayu bakar, karena jika kompor minyak atau gas aroma serabi bisa berubah,” kata Surini kepada Batang Berkembang di rumahnya, beberapa waktu lalu.
Selama ini, menurut Surini, ia hanya menggunakan satu tungku perapian dan alat pencetak serabi yang bisa mencetak 4 serabi sekaligus. “Membuat serabi itu perlu kesabaran. Lengah sedikit, kue serabi bisa gosong dan tidak enak dimakan,” ucapnya.
Ibu tujuh anak itu menambahkan, setiap pagi banyak pembeli yang datang. Kebanyakan mereka membeli serabi untuk oleh-oleh sanak keluarga yang berada di luar kota, atau untuk disantap sendiri. Sehingga sebelum pukul 11.00 siang, serabi yang dijajakan oleh Surini di rumahnya itu sudah habis terjual.
“Dulu awal tahun 1980, saat mula pertama kami membuat serabi, sering saya jajakan ke pasar atau ke toko kue, namun hanya berlangsung selama beberapa bulan saja, kini sudah tidak lagi. Karena serabi yang kami buat sudah habis terjual di rumah,”papar wanita itu yang sehari-harinya membuat sedikitnya 100 buah serabi itu.
Ia menuturkan lebih lanjut untuki bahan baku serabi, Surini menggunakan beras pilihan seharga Rp.7.500,-/kg. Dalam satu minggu ia membutuhkan beras 1 kwintal lebih. Adapun cara membuat serabi menurut dia cukup mudah. Setiap 1 kg beras dicampur dengan satu butir kelapa lalu ditumbuk hingga kedua bahan menjadi halus. Tahap berikutnya tepung beras bercampur kelapa yang telah halus itu lalu diberi gula aren atau gula pasir dan vinili sebagai pengharum serta air secukupnya lalu diaduk hingga berbuih.
“Kami membuat dua jenis serabi, yaitu serabi berwarna cokelat menggunakan gula aren dan serabi berwarna putih menggunakan gula pasir. Untuk serabi gula aren peminatnya lebih banyak. Adapun harga satu tangkep atau satu set serabi, baik gula aren maupun gula pasir sama, Rp.6.500,” ujar Surini.
Berbagi tugas.
Dalam menjalankan usahanya tersebut, Surini setiap hari berbagai tugas dengan Yatin Tasripin, suaminya. Setiap pagi tidak kenal rasa malas atau enggan, Tasripin menumbuk beras bercampur kelapa hingga halus menjadi tepung. “Untuk membuat tepung bercampur kelapa saya lakukan sesuai kebutuhan. Saya tidak berani membuat tepung terlalu banyak, karena sisa tepung kalau tidak langsung digunakan bisa menjadi asam dan rasa serabi pun menjadi tidak enak,” tutur kakek 3 cucu itu.
Ia menambahkan untuk membuat serabi sebanyak 50 tangkep atau 100 buah serabi, tepung bercampur kelapa dibuat secara berangsur tidak sekaligus. Hal itu semata-mata untuk menjaga kwalitas dan tekstur serabi agar tetap empuk dan gurih.
Dinamakan serabi kalibeluk karena dibuat di Desa Kalibeluk dan nama serabi tersebut sudah lama melegenda. Di luar Desa Kalibeluk, kalau pun ada pembuat kue serabi, bentuk, ukuran maupun rasa dipastikan tidak sama. Sejak dulu warga yang membuat serabi di Desa Kalibeluk hingga sekarang tidak lebih dari 8 keluarga. Kenapa bisa demikian?
“Kami juga tidak tahu. Yang jelas kami para pembuat serabi di desa ini masih keturunan Nyai Randinem, cikal bakal pembuat serabi di Desa Kalibeluk,” kata Yatin Tasripin.
Laki-laki itu menambahkan, menurut cerita, Nyai Randinem mendapat restu dan diberi bekal cara membuat serabi oleh Ki Ageng Cempaluk tokoh sakti yang bertempat tinggal di Kesesi (kini wilayah Kabupaten Pekalongan). Adapun Ki Ageng Cempaluk tersebut adalah ayahanda Tumenggung Bahurekso, Senopati Kerajaan Mataram pada zaman Sultan Agung. Dalam babad Batang, nama Tumenggung Bahurekso sangat dikenal. Bahurekso berhasil membuka hutan belantara Alas Roban yang angker menjadi pemukiman penduduk dan berkembang menjadi Kabupaten Batang.
Di Desa Kalibeluk Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang, saat ini hanya terdapat delapan rumah atau 8 keluarga pembuat serabi dan mereka masih merupakan kerabat dekat yang membuat serabi secara turun temurun. Salah satu di antara mereka adalah pasangan suami-isteri, Yatin Tasripin (55) dan Surini (50).
Menurut penuturan Surini, keduanya menekuni pembuatan serabi sudah puluhan tahun, menggantikan orangtuanya. Resepnya pun diwarisi dari kakeknya. Adapun peralatan untuk membuat serabi juga masih sederhana. Cetakan serabinya bentuknya seperti mangkuk terbuat dari tanah liat dan perapiannya juga memakai tungku dengan menggunakan kayu bakar.
“Sejak dulu kami tidak pernah memakai kompor minyak atau gas. Meskipun sedikit ribet, kami lebih suka menggunakan kayu bakar, karena jika kompor minyak atau gas aroma serabi bisa berubah,” kata Surini kepada Batang Berkembang di rumahnya, beberapa waktu lalu.
Selama ini, menurut Surini, ia hanya menggunakan satu tungku perapian dan alat pencetak serabi yang bisa mencetak 4 serabi sekaligus. “Membuat serabi itu perlu kesabaran. Lengah sedikit, kue serabi bisa gosong dan tidak enak dimakan,” ucapnya.
Ibu tujuh anak itu menambahkan, setiap pagi banyak pembeli yang datang. Kebanyakan mereka membeli serabi untuk oleh-oleh sanak keluarga yang berada di luar kota, atau untuk disantap sendiri. Sehingga sebelum pukul 11.00 siang, serabi yang dijajakan oleh Surini di rumahnya itu sudah habis terjual.
“Dulu awal tahun 1980, saat mula pertama kami membuat serabi, sering saya jajakan ke pasar atau ke toko kue, namun hanya berlangsung selama beberapa bulan saja, kini sudah tidak lagi. Karena serabi yang kami buat sudah habis terjual di rumah,”papar wanita itu yang sehari-harinya membuat sedikitnya 100 buah serabi itu.
Ia menuturkan lebih lanjut untuki bahan baku serabi, Surini menggunakan beras pilihan seharga Rp.7.500,-/kg. Dalam satu minggu ia membutuhkan beras 1 kwintal lebih. Adapun cara membuat serabi menurut dia cukup mudah. Setiap 1 kg beras dicampur dengan satu butir kelapa lalu ditumbuk hingga kedua bahan menjadi halus. Tahap berikutnya tepung beras bercampur kelapa yang telah halus itu lalu diberi gula aren atau gula pasir dan vinili sebagai pengharum serta air secukupnya lalu diaduk hingga berbuih.
“Kami membuat dua jenis serabi, yaitu serabi berwarna cokelat menggunakan gula aren dan serabi berwarna putih menggunakan gula pasir. Untuk serabi gula aren peminatnya lebih banyak. Adapun harga satu tangkep atau satu set serabi, baik gula aren maupun gula pasir sama, Rp.6.500,” ujar Surini.
Berbagi tugas.
Dalam menjalankan usahanya tersebut, Surini setiap hari berbagai tugas dengan Yatin Tasripin, suaminya. Setiap pagi tidak kenal rasa malas atau enggan, Tasripin menumbuk beras bercampur kelapa hingga halus menjadi tepung. “Untuk membuat tepung bercampur kelapa saya lakukan sesuai kebutuhan. Saya tidak berani membuat tepung terlalu banyak, karena sisa tepung kalau tidak langsung digunakan bisa menjadi asam dan rasa serabi pun menjadi tidak enak,” tutur kakek 3 cucu itu.
Ia menambahkan untuk membuat serabi sebanyak 50 tangkep atau 100 buah serabi, tepung bercampur kelapa dibuat secara berangsur tidak sekaligus. Hal itu semata-mata untuk menjaga kwalitas dan tekstur serabi agar tetap empuk dan gurih.
Dinamakan serabi kalibeluk karena dibuat di Desa Kalibeluk dan nama serabi tersebut sudah lama melegenda. Di luar Desa Kalibeluk, kalau pun ada pembuat kue serabi, bentuk, ukuran maupun rasa dipastikan tidak sama. Sejak dulu warga yang membuat serabi di Desa Kalibeluk hingga sekarang tidak lebih dari 8 keluarga. Kenapa bisa demikian?
“Kami juga tidak tahu. Yang jelas kami para pembuat serabi di desa ini masih keturunan Nyai Randinem, cikal bakal pembuat serabi di Desa Kalibeluk,” kata Yatin Tasripin.
Laki-laki itu menambahkan, menurut cerita, Nyai Randinem mendapat restu dan diberi bekal cara membuat serabi oleh Ki Ageng Cempaluk tokoh sakti yang bertempat tinggal di Kesesi (kini wilayah Kabupaten Pekalongan). Adapun Ki Ageng Cempaluk tersebut adalah ayahanda Tumenggung Bahurekso, Senopati Kerajaan Mataram pada zaman Sultan Agung. Dalam babad Batang, nama Tumenggung Bahurekso sangat dikenal. Bahurekso berhasil membuka hutan belantara Alas Roban yang angker menjadi pemukiman penduduk dan berkembang menjadi Kabupaten Batang.
Langganan:
Postingan (Atom)






